Sudah menjadi fitroh manusia kalau mereka ingin lebih baik, lebih maju, lebih menonjol dan lebih  sebagainya dari manusia yang lain. Dan sudah menjadi bawaan lahir kalau manusia kadang menghalalkan segala cara untuk mewujudkannya.

Dan hanya sebagian kecil saja dari manusia yang sadar betul bahwa tidak selamanya menjadi lebih dari manusia lainnya itu baik dan bermanfaat. Dan mereka berpendapat bahwa menjadi lebih baik dari manusia lainnya mempunyai tanggungjawab yang besar, karena dia akan menjadi publik figur dan sorotan sekaligus tauladan bagi yang lain. Bagi mereka keadaan yang lebih baik itu merupakan suatu amanah yang nantinya akan dipertanggungjawabkan kepada orang lain dan kepada sang Pencipta. Mereka berpendapat bahwa nanti akan ditanya dari mana dia memperoleh semuanya dan dengan cara bagaimana. Tapi lebih banyak manusia tidak memandang dan tidak menganggap itu penting bahkan mereka dianggap tidak ada oleh kebanyakan manusia.

Anehnya manusia

Manusia mau bersusah-susah hanya ingin kelihatan maju dan lebih dari yang lainnya, seakan mereka berkuasa akan segalanya, dianggapnya yang lain cuma budak dan bawahan semata. Kalaupun dia dapat mencapainya ini hanya dari luarnya saja ibarat sebuah rumah kelihatan dari luar dinding dengan cat yang bagus dan menarik, tetapi didalahnya kosong dan keropos karena sudah tidak ada pendukungnya.

Ketika dia ingin sesuatu dia bermanis muka dan tuturkata pada sesama, tetapi setelah dia mendapatkan keinginannya dianggapnya semua seperti pembantunya. Dia tidak menghargai jerih payah dan usaha manusia lainnya, dia terbuai dengan hasil yang ada dan angan-angannya.

Dia tidak mau ada kritikan atau teguran dari manusia yang lain, dia terlalu optimis dan terlalu yakin kalau langkah dan tindakannya sudah benar dan sesuai koridor yang ada. Kalau ada manusia yang mengkritik dan memberikan masukan,  dianggapnya sebagai duri dan penghalang bahkan dianggap sebagai musuh yang tidak sejalan dengan idenya.

Sungguh naif, dia memaksakan semuanya, dia lupa bahwa yang berhak, punya dan mampu memaksa hanya sang Pencipta saja. Dia ingin maju tapi tidak mau dibantu, malah menganggap manusia yang lain cuma pembantu. Dia ingin bahagia selamanya tapi lupa usia dan waktu telah memakan hidupnya. Dia ingin jadi legenda tapi semena-mena pada sesama. Dia ingin maju tapi tak tahu arah yang akan dituju.

Itulah manusia, punya keingin yang beraneka tapi lupa akan jati dirinya.                           Manusia yang manakah diri kita ? salah satunya atau yang lainya, karena manusia begitu kratifnya..

12.00 wib ” Showroom ” Solo