Merah Putih

Merah Putih

Melihat anak-anak saling beradu cepat untuk meraih hadiah dalam panjat pisang/semacam panjat pinang ( maklum ditempatku sulit untuk mencari pohon pinang ) seolah merupakan hiburan yang menarik dan selalu ditunggu-tunggu setiap tahunnya.

Bahkan tak jarang anak-anak sudah mempersiapkan diri sejak lomba belum dimulai.
Walaupun hadiah yang disediakan panitia tidak sebanding dengan kotor dibadan mereka atau dengan capek yang mereka rasakan. Belum lagi ada yang terluka saat berusaha meraih hadiah yang tergantung diatas, sampai tangannya berdarah.

Ini adalah gambaran umum ditengah masyarakat kita, kita ternyata masih suka yang berbau lucu dan menghibur tanpa memperhatikan bahaya yang bisa timbul. Tidak pernah terbesit dipikiran kita lomba-lomba tersebut mendidik atau tidak bagi anak-anak kita, kita hanya berpikir bahwa acara 17 Agustus harus lucu, aneh dan yang tidak wajar.

Mungkin dikira orang yang tidak waras atau gila kalau kita mengusulkan lomba menghafal surat Al-Qur’an atau lomba berhitung cepat. Dunia hiburan telah mematikan hati nurani kita untuk maju. Kalau alasan lomba tersebut untuk ciri khas peringatan HUT RI, bukankah ada banyak lomba yang lebih mendidik dan lebih meng-Indonesia, seperti menghafal nama-nama Pahlawan Nasional misalnya.

Ini sungguh realita yang susah untuk dihilangkan, kita bisa dengan cepat menghimpun dana berjuta-juta untuk kegiatan tersebut, tapi kita begitu susahnya mencari dana untuk membiayai anak-anak yang putus sekolah. Ironis memang…..