Sejak pulang mendaftarkan di salah satu sekolah Taman Kanak-Kanak Islam  Terpadu ( TKIP ) di Kartasura, Ahlam anakku yang no2 kalau ditanya sekolahnya mana ? dia selalu bilang di Al…. ( sebuah nama TKIP ). Dia kelihatan senang setiap kali ada yang menanyakan sekolah, walaupun baru mendaftar.

Setelah menunngu beberapa hari, sambil aku dan istriku mencoba cari-cari kenalan yang bisa membantu agar anakku bisa diterima. akhirnya pada awal Maret 2010 tibalah waktunya penggumuman, pagi itu Ahlam pergi dengan uminya ke sekolah tersebut. Karena waktunya yang bersamaan dengan jadwal aku kerja terpaksa aku tidak ikut.

Kurang lebih jam 09.00 aku mendapat telpon dari istriku “ Assalamu’alikum,… mas,….Ahlam tidak diterima….. “.  Mendapat kabar istriku pikiranku langsung tertuju ke Ahlam, rasanya aku tak tega bila itu terjadi.

Setelah selesai kerja buru-buru aku pulang untuk bertemu Ahlam anakku, sesampainya di rumah aku gendong dan aku cium dia. Seakan-akan aku ikut merasakan kesedihan yang dialami, hatiku seakan menangis saat mendengar cerita istriku waktu Ahlam tahu kalau tidak diterima. “ Aku ndak sekolah kok, aku ndak boleh sekolah disitu… “ kata Ahlam sambil matanya berkaca-kaca.

Ternyata Ahlam tidak bisa menerima begitu saja, entah sudah berapa kali di berdo’a “ Ya Allah, moga-moga aku di terima di Al….( ….sebuah nama TKIP ) ” walaupun kami harus beberapa kali membetulkan ucapan do’anya.

Bahkan ketika aku nulis ini Ahlam ngomong  “ Aku mau nagis kok…. Lha abi nulis…itu kok… “ tanpa terasa mataku jadi berkaca-kaca, dalam hatiku berdo’a “ Ya Allah ,…. Berilah nikmat, kebaikan dan kemudahan kepada keluargaku ini.. Amiin “.

Ya Allah mudahkanlah kami dalam mencari sekolah yang terbaik untuk anak-anakku. Amiin

Sabarlah wahai Bidadari kecilku, mungkin Allah akan mengantikannya yang lebih baik dan terbaik bagi dirimu. Amiin