Pertanyaan:

Bismillaah
Assalamu’alaikum wa rahmatullaah wa barakatuhu
Asatidz yang semoga senantiasa dalam Rahmat Allah Ta’ala, ada titipan pertanyaan, mohon untuk membantu menjawabnya.
 Ada seorang wanita yang mempunyai kebiasaan / siklus haidh yang teratur, akan tetapi beberapa bulan terakhir waktu haidhnya bertambah hari, yang tadinya 10 hari, beberapa bulan terakhir ini bertambah hari menjadi lebih dari 15 hari, dan dia yakin darah tersebut adalah darah haidh, bukan darah istihadhah. Dan setelah cek ke dokter kandungan juga kata dokter tidak ada masalah dengan rahimnya.
Pertanyaannya adalah, apakah dia harus duduk ( tidak sholat ) untuk 5 hari ( atau lebih ) kelebihan dari haidh biasanya atau harus tetap mengerjakan sholat meskipun dia yakin itu bukan darah penyakit ( karena ciri-cirinya menunjukkan itu darah haidh ).
Mohon asatidz sekalian untuk membantu menjawabnya, dan atas bantuannya kami mengucapkan jazakumulloohu khoiron katsiroo.
Walhamdulillaah
Wassalamu’alaikum wa rahmatullaah wa barakatuhu
Dijawab oleh Al-Ustadz Abu Muhammad Dzulqarnain bin Muhammad Sunusi Hafidzhahullah,
Wa’alaikumussalam Warahmatullahi Wabarakatuh

Kalau perubahan haidhnya sudah terjadi tiga kali berturut-turut, itu berarti kebiasaan haidhnya telah berubah.

Contoh:

Biasanya 5 hari, kemudian tiga bulan secara berturut haidhnya selama 10 hari, berarti dia telah memiliki kebiasaan baru yaitu haidhnya 10 hari. Kalau bulan pertama 5 hari, kemudian bulan kedua 10 hari, maka dia harus duduk (tidak shalat dan tidak puasa) hanya   5 hari dan 5 hari yang lainnya dihitung darah rusak (walaupun cirinya mirip darah haid). Bila di bulan ketiga tetap keluar 10 hari, kewajibannya hanya duduk 5 hari. Bila di bulan keempat tetap 10 hari, maka dia wajib duduk selama 10 hari karena kebiasaan haidhnya telah berubah. Setelah berubah, bila dia meninggalkan kewajiban shalat dan puasa pada bulan kedua dan ketiga, maka kewajiban tersebut harus diqadha setelah jelas bahwa terjadi perubahan pada kebiasaan haidhnya. Wallahualam.

Dzulqarnain M. Sunusi