Bismillah,

Pertanyaan :

Assalamualaikum.
Pak ustad, saya disini mengajukan pertanyaan mengenai kebiasaan bersalaman sehabis shalat, apakah itu bagian dari sunah ataukah bid’ah. Saya mencari dan menemukan artikel di Klik disana dijelaskan adalah mak’ruh karena tidak ada dasarnya. Akan tetapi dibantah dengan dalil dibawah ini..

(بِهَا وُجُوْهَهُمْ, فَأَخَذتُ بِيَدِهِ فَمَسَحْتُ بِهَا وَجْهِيْ.(رواه البخارى)

Artinya : Diriwayatkan dari sahabat Yazid bin Aswad bahwa ia shalat subuh bersama Rasulallah, lalu setelah shalat para jamaah berebut untuk menyalami Nabi, lalu mereka mengusapkan ke wajahnya masing-masing, dan begitu juga saya menyalami tangan Nabi lalu saya usapkan ke wajah saya. (H.R. Bukhari, hadits ke 3360).

Malah yang membantah mengatakan bahwa ” jare ulama fiqih/hadist kondang lah kog shahih bukhari no 3360 rak ndue “ ( katanya ulama fiqih/hadist kondang kenapa shahih bukhari no 3360 tidak punya  )

Mohon penjelasan dalil bukhori no 3360 itu, saya sudah mencari di kitabnya belum ketemu. mohon bantuannya.
Alhamdullilah jaza kallohukhoiron.

Dijawab oleh Al-Ustadz Abu Muhammad Dzulqarnain bin Muhammad Sunusi Hafidzhahullah,

وعليكم السلام ورحمة الله وبركاته
Pada biografi shahabat Yazid bin Al-Aswad radhiyallahu anhu, tidak disebutkan baginya riwayat dalam kutubus sittah sebuah riwayat pun kecuali satu riwayat dalam Sunan Abu Daud, At-Tirmidzy dan An-Nasaiy tentang shalat. Jadi, walaupun dicari dalam shahih Al-Bukhary hingga tujuh turunan tidak akan ketemu.
Memang ada riwayat yang semisal dengannya diriwayatkan oleh Al-Bukhary, bukan dalam shahihnya, tapi dalam At-Tarikh Al-Kabir pada biografi Yazid bin Al-Aswad. Konteks yang lebih mendekati Lafazh yang disebutkan oleh penanya diriwayatkan oleh Ad-Darimy dan Ahmad. Sanadnya bagus dari sisi riwayat. Namun pemahaman terhadap riwayat tersebut harus diluruskan sebagai berikut:
Pertama,
hadits tersebut menunjukkan boleh bertabarruk dengan dzat Nabi shallallahu alaihi wa sallam dan apa yang berasal dari beliau seperti bekas wudhu, rambut, ludah dan semisalnya, karena Allah telah menjadikan berkah pada Nabi-Nya dan Allah mengidzinkan hal tersebut khusus untuk Nabi shallallahu alaihi wa sallam. Siapa yang meyakini hal tersebut untuk selain Nabi, maka dia telah berdusta atas Nama agama. Tidak pernah ada bentuk tabarruk kepada selain Nabi shallallahu alaihi wa sallam, tidak kepada Abu Bakr, Umar, Utsman, Ali maupun selainnya dari orang-orang Shalih.
Kedua,
hadits tersebut tidak menunjukkan bolehnya bersalaman selepas shalat, karena kejadian tersebut tidak ada kaitannya dengan shalat, dengan bukti bahwa para shahabat juga bersalaman dengan Nabi shalallahu alaihi wa sallam pada selain shalat untuk keperluan yang sama sebagaimana ditunjukkan dalam beberapa riwayat tentang tabarruk.
Wallahu A’lam

Dzulqarnain M. Sunusi

sumber : http://groups.yahoo.com/group/nashihah/